Sejarah Kampoeng Lawas Maspati

Sejarah Kampoeng Lawas Maspati

Kampung yang menyimpan jejak Keraton Mataram, masa kolonial Belanda, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Asal Usul Kampung

Kampung Tua di Jantung Kota Surabaya

Kampoeng Lawas Maspati berada di Jalan Maspati Gang V dan VI, Kelurahan Bubutan, Surabaya. Kawasan ini dihuni oleh sekitar 375 kepala keluarga atau kurang lebih 1.750 jiwa, dan keberadaannya bertautan erat dengan perjalanan panjang sejarah Surabaya — sejak zaman Keraton Mataram hingga masa pendudukan Belanda.

Berbeda dari kampung kota pada umumnya, warga di sini secara sadar merawat rumah-rumah tua peninggalan generasi sebelumnya alih-alih merombaknya. Berkat kesadaran kolektif itu, kampung ini kemudian dihidupkan kembali sebagai kampung wisata heritage yang memadukan atraksi budaya, edukasi sejarah, permainan tradisional, dan pelestarian lingkungan dalam satu pengalaman kunjungan.

Omah Tua, bangunan bersejarah sejak 1907
Garis Waktu

Jejak Perjalanan Kampung Maspati

Era Kesultanan Mataram

Cikal Bakal Permukiman

Kawasan Maspati telah dihuni sejak masa Kesultanan Mataram, menjadikannya salah satu kampung dengan lapisan sejarah terpanjang di Kota Surabaya.

1907

Omah Tua Didirikan

Rumah yang kini dikenal sebagai "Omah Tua" dibangun pada tahun 1907. Bangunan ini menjadi salah satu saksi bisu perkembangan kampung dari masa ke masa, dan kini difungsikan sebagai kafe heritage bagi pengunjung.

1913

Berdirinya Sekolah Ongko Loro

Rumah Ongko Loro didirikan sebagai sekolah rakyat pada masa kolonial Belanda. Kini bangunan tersebut dirawat dan difungsikan kembali sebagai ruang kegiatan budaya dan edukasi bagi warga maupun pengunjung.

10 November 1945

Saksi Perjuangan Kemerdekaan

Omah Tua tercatat pernah menjadi tempat berkumpulnya para pemuda kampung untuk menyusun strategi menjelang Pertempuran Surabaya, momen bersejarah yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Pasca Kemerdekaan

Kehidupan Kampung yang Terus Berlanjut

Kampung terus dihuni turun-temurun oleh warga, termasuk generasi yang tinggal di sekitar kediaman tokoh setempat seperti Raden Sumomiharjo, sambil menjaga karakter arsitektur lawas di tengah modernisasi Kota Surabaya.

2023 – 2026

Kebangkitan sebagai Kampung Wisata

Warga bersama pengelola menghidupkan kembali kampung ini menjadi destinasi wisata heritage. Upaya tersebut membuahkan sejumlah pengakuan: ADWI 2023 (Top 300 Nasional), Desa Wisata Award 2024 & 2025, status Kampung Iklim 2024, hingga Surabaya Tourism Award 2026 untuk kategori Most Sustainable Urban Tourism.

Keunikan Budaya

Tradisi yang Masih Hidup Hingga Kini

Selain bangunan bersejarah, kampung ini juga merawat berbagai tradisi dan kesenian warganya sendiri.

Tari Remo

Ditampilkan setiap akhir pekan oleh pemuda kampung sebagai bentuk pelestarian kesenian khas Jawa Timur.

Paduan Suara Lansia

Kelompok warga lanjut usia yang aktif tampil, menjadi bukti nyata semangat gotong royong lintas generasi.

Pijat Asman Kenanga

Tarian pijat tradisional khas kampung yang menjadi salah satu daya tarik budaya unik Maspati.

Kampung Iklim

Warga aktif menjaga lingkungan melalui program daur ulang sampah dan penghijauan gang kampung.

Rasakan Langsung

Datang dan Dengarkan Kisahnya Sendiri

Pemandu lokal kami akan mengajak Anda menyusuri gang demi gang sambil menceritakan kisah di balik setiap bangunan.

Lihat Paket Wisata Hubungi Kami